Minggu, 07 November 2010

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1. Pengkajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Mengkaji SK dan KD Pendidikan Agama Islam sebagaimana tercantum pada Standar isi, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.
b. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar.
c. Keterkaitan antar kompetensi dasar dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
d. Keterkaitan antara SK dan KD antara mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan mata pelajaran lain.

2. Pengembangan Indikator

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dari satu KD dapat juga sebagai alat ukur bagi KD yang lain.

Misalnya:
Indikator dari KD 1.1 Membaca QS Al-Baqarah; 30 ...dst bisa dijadikan alat ukur bagi KD 2.1 Membaca QS Al-An’am; 162-163... dst dan KD 7.1 membaca QS Ali Imran; 159 ... dst karena kemampuan yang diharapkan dalam indikator adalah ”membaca Al-Quran”. Artinya jika seorang peserta didik sudah mampu membaca Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 ... dengan fasih (KD 1.1), maka insya Allah ia akan mampu membaca Al-Quran surat Al-An’am ayat 162-163 ...(KD 2.1) dengan fasih juga dan seterusnya.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
Setiap Kompetensi Dasar hendaknya dikembangkan menjadi 3 indikator (minimal). Akan tetapi, jika substansi dan rumusan Kompetensi Dasar sudah sangat operasional, maka tidak harus dipaksakan ada 3 indikator.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dikembangkan berdasarkan KD dan indikator yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan potensi peserta didik, karakteristik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik, kebermanfaatan bagi peserta didik, struktur keilmuan, aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan, dan alokasi waktu yang tersedia.

Contoh KD 5.1 : Menyebutkan pengertian, kedudukan dan fungsi Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam. Maka materi pembelajarannya adalah:

Sumber hukum Islam:
a. Al-Quran
• Pengertian
• Kedudukan
• Fungsi
b. Al-Hadits
• Pengertian
• Kedudukan
• Fungsi
c. Ijtihad
• Pengertian
• Kedudukan
• Fungsi

4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para guru Pendidikan Agama Islam, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
Pengembangan kegiatan pembelajaran juga untuk menentukan materi mana yang dapat dilakukan dengan tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri yang tidak terstruktur.
Misalnya:
a. KD 11.2: Menyebutkan contoh pengelolaan zakat, haji dan wakaf. Kegiatan pembelajaran untuk Kompetensi Dasar ini dapat dilakukan dengan penugasan terstruktur, karena dapat dilakukan di luar tatap muka di kelas, sedangkan waktunya ditentukan oleh guru.
b. KD 5.3: Menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran untuk Kompetensi Dasar ini dapat dilakukan dengan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
5. Menentukan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Misalnya: KD 1.1 Membaca QS Al-Baqarah;30, Al-Mukninun;12-14, Az-Zariyat;56 dan An-Nahl;78. Penilaian untuk pencapaian KD ini tidak bisa dilakukan dengan tes tertulis, tetapi harus melalui pengamatan untuk menilai perkembangan psikomotor tentang membaca Al-Quran oleh setiap peserta didik.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang 2 jam pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
Mengingat banyaknya jumlah KD Pendidikan Agama Islam dalam satu semester, maka tidak semua KD membutuhkan alokasi waktu dalam tatap muka, tetapi berupa pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, seperti KD 4.3: Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari.
Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya
Contoh sumber belajar Pendidikan Agama Islam antara lain buku-buku, CD, internet, ustaz dan khatib di mesjid, da’i dan mubaligh di TV dan radio, dsb.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar